Kusandarkan Hidupku Kepada-Mu, Hakekat Tawakkal

  • belajar islam
  • kata
    • kata lucu
    • kata bijak
    • kata mutiara
    • kata cinta
    • kata gokil
  • lucu
    • gambar lucu
    • pantun lucu
    • tebakan lucu
    • kata lucu
    • cerita lucu
  • berita
    • berita unik
    • berita politik
    • berita artis
    • berita aneh
  • kesehatan
    • asam urat
    • kanker
    • jantung
    • hepatitis
    • ginjal
    • asma
    • lambung
  • gambar
    • gambar unik
    • gambar lucu
    • gambar aneh
    • gambar animasi
    • video lucu
  • hoby
    • burung
    • ikan
    • piaraan
  • contoh
    • surat lamaran
    • recount text
    • descriptive text
    • curriculum vitae
    • deskripsi
  • video
    • video lucu
    • video hantu
    • video polisi
    • video totorial
    • video panas
    • video lagu
  • blog
    • SEO
    • template
    • script
    • widget
    • backlink
    • imacros
  • komputer
    • excel
    • macro excel
Home » Aqidah » Kusandarkan Hidupku Kepada-Mu, Hakekat Tawakkal

Kusandarkan Hidupku Kepada-Mu, Hakekat Tawakkal

Penulis : Redaksi AsSalafy.org

Menyandarkan hidup sepenuhnya kepada Allah subhanahu wata’ala tanpa dibarengi dengan usaha yang nyata bukanlah termasuk perangai orang yang bertawakkal dengan sebenarnya.

Secara bahasa, tawakkal bermakna الاعتماد (bersandar) dan التفويض (berserah diri). Bertawakkal kepada Allah ta’ala berarti menyandarkan dan menyerahkan segala urusan dia hanya kepada-Nya.

Seorang yang bertawakkal kepada Allah adalah dengan dia benar-benar menyandarkan dirinya kepada Allah saja, dan dia tahu bahwa kebaikan itu datang hanya dari Allah ‘azza wajalla semata, Allah ta’ala sajalah satu-satunya Dzat yang mengatur segala urusannya.
Dan dia pun juga memahami apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

يا غُلامُ إنِّي أعلِّمُكُ كَلماتٍ : احفَظِ الله يَحْفَظْكَ ، احفَظِ الله تَجِدْهُ تجاهَكَ ، إذا سَأَلْت فاسألِ الله ، وإذا استَعنْتَ فاستَعِنْ باللهِ ، واعلم أنَّ الأُمَّةَ لو اجتمعت على أنْ ينفعوك بشيءٍ ، لم ينفعوك إلاَّ بشيءٍ قد كَتَبَهُ الله لكَ ، وإنِ اجتمعوا على أنْ يَضرُّوكَ بشيءٍ ، لم يضرُّوك إلاَّ بشيءٍ قد كتبهُ الله عليكَ.

“Wahai anak kecil, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapatkan (pertolongan dan karunia) Dia berada di hadapanmu. Jika Engkau meminta, maka mintalah hanya kepada Allah. Jika Engkau meminta pertolongan, maka mintalah tolong hanya kepada Allah. Ketahuilah, kalu saja manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, maka tidaklah mereka bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang Allah tulis bagimu, dan kalaulah mereka berkumpul untuk menimpakan mudharat kepadamu, maka tidaklah mereka mampu untuk memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang memang telah Allah tulis bagimu.” [HR. Ahmad dan At-Tirmidzi. Lihat penjelasan Ibnu Rajab di dalam kitabnya Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal.174]

Tawakkal merupakan kewajiban bagi seorang hamba yang dituntut untuk menunaikannya dengan ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal jika memang kalian mengaku beriman.” (Al-Maidah 23).

Dan firman-Nya:

إِنْ كُنْتُمْ آَمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ

“Jika kalian mengaku beriman kepada Allah, maka hanya kepada-Nya lah hendaknya kalian bertawakkal jika kalian memang benar-benar orang-orang yang berserah diri.” (Yunus: 84)

Pada dua ayat ini, Allah menjadikan tawakkal sebagai syarat keimanan dan keislaman seseorang. Hal ini menunjukkan tentang pentingnya permasalahan tawakal ini bagi seorang hamba. Tawakal merupakan wujud realisasi tauhid yang paling tinggi dan mulia yang dimiliki oleh seorang hamba. Segala yang dikerjakan dan diamalkan oleh seorang hamba, baik yang berhubungan dengan permasalahan dunianya maupun akhiratnya, dia kembalikan dan dia sandarkan semuanya hanya kepada Allah ‘azza wajalla semata, bukan kepada yang lain.

Namun yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa sikap tawakkal itu tidaklah kemudian mengabaikan upaya untuk melakukan sebab-sebab (yakni beramal dan berusaha) dengan sesuatu yang bisa mengantarkan kepada yang dia inginkan. Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertawakkal dan sekaligus beramal mencari sebab-sebab teraihnya sesuatu yang dikehendaki tersebut. Ini merupakan bentuk tawakkal yang paling sempurna. Hanya saja jangan sampai seseorang bersandar sepenuhnya kepada sebab-sebab yang dia kerjakan tersebut dan kemudian melupakan ketergantungan dan bersandarnya diri kepada Allah subhanahu wata’ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (Al-Anfal: 60)

Dan firman-Nya:

خُذُوا حِذْرَكُمْ

“Bersiap siagalah kalian.” (An-Nisa’: 71)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling mulia dan paling sempurna tawakkalnya kepada Allah ‘azza wajalla, walaupun demikian beliau berusaha mencari dan melakukan sebab-sebab sebagai wujud dari tawakkal beliau kepada Rabbnya. Salah satunya adalah ketika berperang, beliau menyiapkan dan membawa senjata, memakai pakaian perang, memakai pelindung kepala dan yang lainnya dari perlengkapan perang. Tidak kemudian beliau pergi berperang dengan tanpa perlengkapan dengan alasan bergantung kepada Allah ta’ala. [Lihat Zaadul Ma’aad karya Ibnul Qayyim (I/130-133) dan (III/380-481)].

Dikisahkan bahwa sebagian kaum muslimin yang hendak pergi menunaikan ibadah haji namun tanpa membawa perbekalan. Bahkan mereka berkata: ‘Kami bertawakkal kepada Allah’. Ini adalah keliru, sehingga kemudian Allah subhanahu wata’ala turunkan kepada mereka perintah untuk menyiapkan perbekalan. Allah ‘azza wajalla berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Dan berbekallah kalian. Maka sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Al-Baqarah: 197)

Bersandar sepenuhnya kepada sebab-sebab merupakan bentuk kesyirikan. Namun meninggalkan sebab-sebab dan pasrah begitu saja merupakan sikap yang tercela dalam syariat. Maka, janganlah tawakkal ini menjadikan seseorang malas dan lemah, pasrah begitu saja tanpa mau berusaha mencari sebab. Dan juga janganlah kemudian seseorang berusaha mencari sebab-sebab namun tidak bersandar kepada Allah subhanahu wata’ala. Wajib bagi seseorang untuk menunaikan keduanya: mencari sebab dan bersandar kepada Allah.

Jika ada yang berkata: ‘Saya akan bertawakkal saja kepada Allah untuk mendapatkan rezeki. Saya akan tinggal di rumah saja dan tidak perlu repot-repot mencari rezeki’.

Maka kita katakan kepadanya bahwa ini tidak benar dan bukan merupakan bentuk tawakkal yang sesungguhnya. Karena Allah subhanahu wata’ala -Dzat yang telah memerintahkan untuk bertawakkal- juga telah berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu akan dibangkitkan.” (Al-Mulk: 15)

Dan juga jika ada seseorang yang hendak meminum racun, kemudian berkata: ‘Saya bertawakkal kepada Allah agar racun ini tidak memudharatkan saya’. Inipun bukan merupakan bentuk tawakkal yang benar dan bahkan menyelisihi larangan Allah subhanahu wata’ala, karena Allah subhanahu wata’ala telah berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Janganlah kalian membunuh diri-diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian.” (An-Nisa: 29).

Walhasil, bahwa mencari sebab-sebab yang telah Allah subhanahu wata’ala tentukan tidaklah meniadakan kesempurnaan tawakkal. Bahkan hal ini merupakan bagian dari kesempurnaan tawakkal itu sendiri.

الله المستعان وألله أعلم

[Diterjemahkan dengan ringkas dari kitab Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan (I/33-37) oleh Al-Ustadz ‘Abdullah Imam]

Sumber : http://www.assalafy.org/mahad/?p=471
Ditulis oleh Unknown, Senin, 12 April 2010 04.02- Rating: 4.5

Judul : Kusandarkan Hidupku Kepada-Mu, Hakekat Tawakkal

Deskripsi : Penulis : Redaksi AsSalafy.org Menyandarkan hidup sepenuhnya kepada Allah subhanahu wata’ala tanpa dibarengi dengan usaha yang nyata bukanl...
keyword :Kusandarkan Hidupku Kepada-Mu, Hakekat Tawakkal, Aqidah

Belum ada komentar untuk "Kusandarkan Hidupku Kepada-Mu, Hakekat Tawakkal"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru
Posting Lama
Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Postingan Populer
  • Perguruan Mahesa Kurung (MK) Al Mukarromah
    sumber : http://swaramuslim.net/galery/sekte/index.php?page=MUI-mahesa_kurung Fatwa MUI Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogo...
  • Kajian Nasional Yogyakarta Bersama Masyayikh Ahlussunnah Salafi 1434 H 2013 Yogyakarta
    Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah, dengan izin dan pertolongan Allah, insya Allah akan hadir kembali: KAJIAN ISLAM ILMIAH AHLUS...
  • Download Ebook: Panduan I'tikaf
    Bulan Ramadhan hampir habis, dan hari ke dua puluh tinggal hitungan jam.. di hari ke sepuluh terakhir di bulan ramadhan Ada amalan yang Ro...
  • Kenapa Saya Tidak Ikut Merayakan Maulid Nabi?
    Kenapa Saya Tidak Ikut Merayakan Maulid Nabi?   22 Argumen Orang-orang yang Membolehkan Perayaan Maulid Nabi Beserta Bantahannya Al Ustadz ...
  • Script Download
    Bismillah. Untuk menampilkan link download di blog ini ke blog Antum, silakan copy script di bawah ini kemudian paste di blog Antum. Jazaku...
  • Aplikasi Dakwah untuk Smartphone
    Salam Dakwah adalah situs dan aplikasi untuk Smartphone, seperti BlackBerry, Android, iPhone, dan Tablet yang memungkinkan Anda untuk mend...
  • bibel_quran_sains.chm
    http://www.mediafire.com/download.php?pa50971darua6tt
  • Panduan Ringkas di Bulan Ramadhan
     بِسْمِ ﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaih...
  • Al-Qur’an untuk orang hidup bukan untuk orang mati
    Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yang lebih mengherankan, ada di kalangan ummat Islam ini yang salah dalam menyikapi Al-Qur’an. Mereka menjadika...
  • KUMPULAN EBOOK ISLAM
    Written by As'ad Fatkhul Ilmi  http://dakekito.blogspot.com/2013/03/kumpulan-ebook-islam.html?showComment=1362801635968#c7786393194...

Info belajar islam © Kusandarkan Hidupku Kepada-Mu, Hakekat Tawakkal